HATI-HATIKI ATAS PUJIAN/SANJUNGAN ORANG LAIN


JG Heithcock


HATI-HATI DENGAN PUJIAN

Hal yang sering  di temukan disekitar kita banyak orang mengharapkan sesuatu yang lebih. Akan tetapi mereka selalu mengharapkan sesuatu itu. Sesuatu itu disini bukanlah berupa barang. Akan tetapi pujian atau sanjungan, ya memeng pujian itu sesuatu yang sangat menyenangkan apabila kita dengar dari orang yang memeuni kita. Tetapi perlu kita hati-hati dan waspada. Mengapa demikian?

Sanjungan itu bisa saja menejerumuskan dalam lubang lubang-lubang kehinaan, jika kita lalai apa yang di pujian itu,  kerena reasa bangga pada diri sendiri, hal itu bisa mengakibatkan kita lupa. Bahwa melakukan itu karena Allah, yak arena Allah, Allah yang selama ini memberikan kemampuan lebih pada diri anda. Lalu apa yang membuat anda sombong. Jadi sekali lagi hati –hati terhadap punjian.

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحدا
“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]


Imam Al-Ghazali Rahimahullah mengatakan, “Orang yang dipuji hendaknya waspada, jangan sampai ia terjatuh dalam kesombongan, ujub dan bentuk futur lainnya. Seseorang bisa selamat dari hal-hal jelek tadi, hanya dengan mengetahui hakikat keadaan dirinya. Hendaklah ia renungkan akan bahaya jika berada dalam akhir hidup yang jelek. Hendaklah ia waspada akan bahaya riya’ dan terhapusnya amalan. Hendaknya ia kenali diri orang yang memuji pun tidak mengenalnya. Kalau saja orang yang memuji itu tahu kejelekan yang ada pada dirinya, tentu ia tak akan memuji. Baiknya, ia tampakkan pula bahwa ia tidak suka pada pujian tersebut,” (Ihya’ Ulum Ad-Diin, 3: 236).

Jadi ketika di puji, jangan terlalu merasa bahagia terhadap pujian itu. Karena pada hakikat yang sebenarnya, pujian itu hanyalah kepunyaan Allah semata. Segala sesuatu yang ada pada diri kita, itu disebabkan karena Allah swt. Allah-lah yang berhak menerima pujian itu. Anda sebagai Manusia sepantasnya hanya bersyukur.
Nah apabila mendapatkan sanjungan dari teman kita atau orang yang ada disekitar kita, ini ada Doa yang diajarkan oleh Abu Bakar. Ash-Shiddiq, seperti inilah doa nya.
“Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.”

Artinya, “Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka,” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ Al-Ahadits, Jalaluddin As-Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah).

Jadi jika ada yang memberikan sanjungan kepada kita janganlah terlalu bangga atas pujian tersebut anggaplah pujian itu diperuntukkan kepada Allah swt, waspadalah atas pujian itu jangan sampai dapat melemahkan keimanan anda.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

STOP DENGAN AIR WUDHU

TUHAN MAAFKAN AKU