Adik Sebuah Bahasa Sayang
Sepanjang yang saya perhatikan, tak banyak saudara tua mau memanggil adik pada saudara mudanya. Sebaliknya, saudara muda akan selalu dapat teguran bila memanggil saudara tuanya tidak pakai kak (kakak), mas, mbak, atau bahasa daerah lainnya.
Di sini tentu dapat dicium rasa tidak adilnya. Saudara tua seolah menuntut kalau memanggil jangan namanya doang: tidak sopan, tidak patut, tidak hormat, serta tidak etis. Giliran kepada saudara mudanya semena-mena hanya memanggil namanya. Jarang yang mau diembeli adik, atau dik.
Panggilan Dik
Dalam masyarakat –tentunya saya bicara masyarakat di Jawa bagian tengah yang saya tinggali– biasanya panggilan adik lebih sering diucapkan adek. Huruf i diganti e. Hampir lazim sering terjadi tidak sadarnya orang menyebut Indonesia, diganti Endonesia.
Dalam menggunakan kata adek, bila disambung dengan namanya, biasanya dalam kehidupan sehari-hari yang menuntut kepraktisan lebih suka dipotong jadi “dek” saja. Misalnya, dek Rina. Ini terkesan lebih singkat daripada adek Rina.
Bila ada yang mengatakan perempuan perasaannya lebih halus daripada lelaki, rasanya benar saja. Dalam pergaulan sehari- hari, hampir jarang saya temui kakak laki-laki memanggil adik pada saudara kecilnya. Cenderung namanya saja. Saya sendiri mengalami, sebagai anak terakhir saya tidak pernah dipanggil adik oleh kakak saya, yang satu-satunya saudara tua saya. Ini beda jauh bila perempuan, kerap kujumpai tak segan atau tak malu memanggil adiknya dengan diembeli dik atau adik.
Rasa Sayang
Walau begitu, perempuan lebih ringan memanggil adik, itu tidak semua perempuan mau melakukan. Contoh kasus saja, tetangga sebelah rumah saya. Ia perempuan anak pertama yang memiliki dua adik yang kebetulan semua perempuan pula. Kepada adik-adiknya tidak pernah kudengar memanggilnya sekedar dik atau kata dik diikuti namanya. Yang terjadi, ya, memanggil namanya saja. Lucunya, giliran setelah menikah dan punya anak, yang kini usia 3 tahunan. Kepada anaknya tak segan memanggilnya dengan adik.
Saya merasa, dan ini pula yang saya amati. Saudara tua yang tak malu memanggil adik pada saudara mudanya, pada kenyataannya benar memiliki kedekatan batin dan rasa sayang pada saudara kecilnya tersebut. Biasanya itu dimiliki orang-orang berkepribadian halus.
Bisa jadi, dengan membiasakan tidak lagi memanggil namanya, diganti adik atau adek. Itu tanda rasa sayangnya yang dalam. Ungkapan bahasa kasih sayang yang tak semua orang memiliki jiwa itu.
Di sini tentu dapat dicium rasa tidak adilnya. Saudara tua seolah menuntut kalau memanggil jangan namanya doang: tidak sopan, tidak patut, tidak hormat, serta tidak etis. Giliran kepada saudara mudanya semena-mena hanya memanggil namanya. Jarang yang mau diembeli adik, atau dik.
Panggilan Dik
Dalam masyarakat –tentunya saya bicara masyarakat di Jawa bagian tengah yang saya tinggali– biasanya panggilan adik lebih sering diucapkan adek. Huruf i diganti e. Hampir lazim sering terjadi tidak sadarnya orang menyebut Indonesia, diganti Endonesia.
Dalam menggunakan kata adek, bila disambung dengan namanya, biasanya dalam kehidupan sehari-hari yang menuntut kepraktisan lebih suka dipotong jadi “dek” saja. Misalnya, dek Rina. Ini terkesan lebih singkat daripada adek Rina.
Bila ada yang mengatakan perempuan perasaannya lebih halus daripada lelaki, rasanya benar saja. Dalam pergaulan sehari- hari, hampir jarang saya temui kakak laki-laki memanggil adik pada saudara kecilnya. Cenderung namanya saja. Saya sendiri mengalami, sebagai anak terakhir saya tidak pernah dipanggil adik oleh kakak saya, yang satu-satunya saudara tua saya. Ini beda jauh bila perempuan, kerap kujumpai tak segan atau tak malu memanggil adiknya dengan diembeli dik atau adik.
Rasa Sayang
Walau begitu, perempuan lebih ringan memanggil adik, itu tidak semua perempuan mau melakukan. Contoh kasus saja, tetangga sebelah rumah saya. Ia perempuan anak pertama yang memiliki dua adik yang kebetulan semua perempuan pula. Kepada adik-adiknya tidak pernah kudengar memanggilnya sekedar dik atau kata dik diikuti namanya. Yang terjadi, ya, memanggil namanya saja. Lucunya, giliran setelah menikah dan punya anak, yang kini usia 3 tahunan. Kepada anaknya tak segan memanggilnya dengan adik.
Saya merasa, dan ini pula yang saya amati. Saudara tua yang tak malu memanggil adik pada saudara mudanya, pada kenyataannya benar memiliki kedekatan batin dan rasa sayang pada saudara kecilnya tersebut. Biasanya itu dimiliki orang-orang berkepribadian halus.
Bisa jadi, dengan membiasakan tidak lagi memanggil namanya, diganti adik atau adek. Itu tanda rasa sayangnya yang dalam. Ungkapan bahasa kasih sayang yang tak semua orang memiliki jiwa itu.

Komentar
Posting Komentar